Peristiwa
Senin, 20 Mei 2013 - 12:47:37 | adi-prabowo-ado / sorotjogja

12 KELOMPOK GAMELAN GEREJANI PENTAS DI REALINO

12 KELOMPOK GAMELAN GEREJANI PENTAS DI REALINO
Sorot Jogja

Sleman (sorotjogja.com) -- Sebanyak 12 kelompok gamelan dari beberapa gereja Katolik dan gereja jawi wetan (GJW) DIY-Jateng berkumpul di Lapangan Realino Universitas Sanata Dharma (USD), Minggu (18/5). Mereka mengikuti Festival Seni Karawitan Gending Gerejani yang diadakan UKM Seni karawitan USD.

Penggagas acara, Romo Banar mengatakan sebenarnya acara ini dipersembahkan untuk dua orang yang menggagas musik gamelan sebagai pengiring ibadah di gereja, yakni J.B Sukodi dan (alm) Cajetanus Hardjasoebrata. Mereka berdua yang mempopulerkan gending jawa masuk di gereja.

"Hingga kini sudah banyak lagu gereja yang diaransemen menjadi gending jawa. Ini sangat menarik dan kami mencoba kembali membumikan akulturasi ini lagi,"  jelas Romo Banar di sela-sela acara.

Menurut Romo Banar, gamelan masuk ke gereja ini memang sudah lama, yakni sejak tahun 1950. Sebelumnya dan kebanyakan saat ini, lagu-lagu gerejani itu diiringi dengan piano atau organ.

"Nah ini kok aneh, bisa mengangkat budaya lokal masuk dalam gereja. Ide aneh ini ternyata malah membuat gamelan dicintai umat kristiani. Semoga dengan festival ini gamelan masih mendapatkan tempatnya lagi," kata Romo Banar.

Ketua Panitia Gamelan, Clara Alverina Pramudita mengatakan jika acara ini tidak ada sistem penilaian. Ada 12 kelompok gamelan gerejani menyuguhkan yang terbaik untuk dinikmati orang yang datang ke sini.

"Kami tidak membuat sistem penilaian dan ada pemenang. Kami hanya memfasilitasi para pemain gamelan gerejani itu tampil dengan maksimal di panggung. Agar tidak hanya umat kristiani saja yang menikmati keindahan musik gamelan gerejani namun masyarakat umum juga," ungkap Clara.

Pelatih UKM Karawitan USD, Eko Susilo mengaku festival gamelan ini diharapkan memunculkan kreasi baru dalam dunia gamelan. Terutama gamelan dengan lirik lagu berbahasa Indonesia agar bisa dinikmati semua kalangan.

"Kreasi baru ini tidak akan mengurangi identitas gending jawa itu sendiri. Sebab gaya gamelan sudah sangat khas, bahkan tanpa lirik melodi yang dihasilkannya sudah langsung ketahuan jika itu gending jawa," kata Eko.

Eko mengaku selama ini yang belajar gending di USD sendiri merupakan mahasiswa-mahasiswa USD. Banyak diantara mereka mengaku kebingungan dengan lirik lagu yang ada, karena masih menggunakan bahasa jawa yang sangat kental.

Makanya jika banyak gending jawa berbahasa Indonesia pastilah gamelan ini semakin bisa dinikmati orang banyak. Ke depan panitia ingin membuat festival aransemen gending jawa berlirikkan bahasa Indonesia.

Baca juga :


HOT NEWS
bernas_jogja.jpgeltira.jpgsonora.jpg